Kalimantan Tengah Terjebak Asap Pekat: Gambut Membara, Penerbangan Lumpuh, hingga Misi Pertaruhan Nyawa Tim Gabungan

Kalimantan Tengah Terjebak Asap Pekat (Foto Istimewa).


PALANGKA RAYA — Langit Kalimantan Tengah kini berubah menjadi kelabu pekat. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di tanah gambut tak hanya menghancurkan ekosistem dan melumpuhkan aktivitas penerbangan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa warga serta menguji batas ketangguhan para petugas dan relawan di garis depan.


1. Gambut Membara & Langit Lumpuh: Penerbangan Dibatalkan

Kebakaran dahsyat di lahan gambut—terutama di kawasan strategis dekat Jembatan Tumbang Nusa hingga pinggiran Kota Palangka Raya—kian tak terkendali. Dalam waktu singkat, lebih dari 1.200 hektar lahan gambut hangus dilalap api yang diduga kuat dipicu oleh aksi pembakaran secara sengaja.

Dampak bencana ini merembet cepat ke sektor penerbangan. Jarak pandang (visibility) di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya merosot drastis akibat diselimuti kabut asap tebal dan hujan abu sisa kebakaran. Sejumlah jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan setelah para penumpang menunggu berjam-jam tanpa kepastian. Kualitas udara di Palangka Raya bahkan menembus angka 128.4 µg/m³ (PM2.5), yang mengategorikannya dalam tingkat Sangat Tidak Sehat. Banyak warga akhirnya memilih mengungsi ke luar daerah demi mengamankan kesehatan keluarga.

2. Helikopter Water Bombing Terhalang, Pemprov Fokus Pembasahan Gambut

Upaya pemadaman dari udara (water bombing) yang mengandalkan armada helikopter menghadapi kendala besar di lapangan. Kabut asap yang terlalu pekat menutupi jarak pandang para pilot, membuat helikopter sulit bermanuver dan menjatuhkan air secara presisi di titik api utama.

Merespons situasi darurat ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengubah strategi dengan memfokuskan operasi pada pembasahan lahan gambut (rewetting) secara masif lewat jalur darat. Langkah ini dilakukan guna memutus rantai api bawah permukaan (subsurface fire) yang menjadi karakter khas kebakaran lahan gambut dan sangat sulit dipadamkan jika hanya mengandalkan siraman air dari udara.

3. Perjuangan di Garis Depan: Pertaruhan Nyawa & Solidaritas Relawan

Ketika armada udara terhalang asap pekat, personil Ditlantas Polda Kalteng bersama Satgas Gabungan TNI, BPBD, dan Manggala Agni menjadi benteng terakhir. Dengan peralatan pemadam seadanya, mereka berani menerjang asap menyengat dan jarak pandang terbatas demi menahan laju kobaran api agar tidak merembet ke permukiman penduduk.

Momen dramatis terjadi saat tim gabungan melancarkan misi penyelematan dan berhasil menevakuasi 8 warga Palangka Raya yang sempat terjebak di tengah lingkaran kobaran karhutla. Di tengah perjuangan fisik yang melelahkan ini, gelombang solidaritas masyarakat dan lembaga kemanusiaan seperti Emergency Response Palangka Raya (ERP) terus mengalir dengan menyalurkan bantuan logistik, masker, dan suplai medis untuk menjaga stamina para relawan darat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama