![]() |
| Ratusan santri keracunan di Sidoarjo (Foto: Istimewa) |
Kasus keracunan makanan masal yang bersumber dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendadak mengguncang wilayah Sidoarjo dan memicu kekhawatiran luas. Peristiwa beruntun ini meluas dengan cepat hingga menyebabkan lonjakan jumlah korban jiwa yang mengalami gejala keracunan, seperti mual, muntah, dan diare akut.
Pihak-pihak yang terlibat dalam insiden ini mencakup ratusan santri dari Pondok Pesantren Manba'ul Hikam serta para siswa di belasan sekolah sekitar. Selain korban anak-anak, Badan Gizi Nasional (BGN) turun tangan secara langsung untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, penyedia makanan yang berada di tengah sorotan publik.
Rentetan insiden ini terjadi dan merebak sejak awal September 2026. Dalam hitungan waktu yang relatif singkat, dampak dari makanan yang dibagikan tersebut langsung mengganggu kesehatan ratusan anak yang mengonsumsinya pada hari yang sama.
Peristiwa ini berpusat di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Barat. Dampak keracunan tidak hanya terbatas pada area Ponpes Manba'ul Hikam di mana jumlah korban diduga mencapai sekitar 500 orang santri, namun juga meluas hingga menginfeksi siswa di 19 sekolah lain di wilayah sekitarnya.
Penyebab utama dari tragedi ini bermula dari kontaminasi hidangan MBG yang diproduksi dan didistribusikan oleh dapur SPPG Kalitengah. Meskipun fasilitas SPPG Kalitengah tersebut dilaporkan sudah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), proses pengolahan atau penanganan bahan makanan diduga kuat mengalami celah kelalaian hingga memicu kontaminasi masal. Di tengah sorotan tajam masyarakat, SPPG Kalitengah juga menjadi perhatian karena dampak sosialnya yang sempat membuka lapangan kerja bagi warga lokal.
Kronologi kejadian berlangsung saat hidangan MBG didistribusikan ke Ponpes Manba'ul Hikam dan belasan sekolah penerima manfaat. Tidak lama setelah menyantap makanan tersebut, para santri dan siswa mulai merasakan gejala sakit perut hebat secara serentak. Rumah sakit serta fasilitas kesehatan setempat dengan cepat dipenuhi oleh ratusan korban yang membutuhkan penanganan medis darurat. Menanggapi situasi krisis ini, BGN melakukan evaluasi mendalam atas hasil sidak untuk mengusut tuntas standar operasional prosedur (SOP) penyediaan makanan guna memastikan keselamatan para penerima manfaat di masa mendatang.
