BANDAR LAMPUNG - Suara dentuman keras disertai getaran misterius mengejutkan ribuan warga di kawasan pesisir Selat Sunda hingga meluas ke wilayah Lampung, Banten, dan Jawa Barat. Suara dentuman yang terdengar berulang kali tersebut membuat pintu dan jendela rumah warga bergetar sendirinya hingga memicu kepanikan massal. Setelah dilakukan konfirmasi oleh otoritas terkait, fenomena suara gemuruh dan getaran hebat tersebut dipastikan bersumber dari aktivitas letusan beruntun Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat yang berada di sepanjang wilayah pesisir Lampung Selatan, Banten, hingga kawasan Bandung Raya di Jawa Barat menjadi pihak utama yang merasakan langsung getaran serta dentuman tersebut. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta kepolisian setempat langsung bertindak cepat memantau perkembangan situasi dan mengimbau warga untuk tetap tenang namun bersiaga.
Fenomena dentuman keras dan getaran pintu rumah warga ini mulai dirasakan secara masif sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi, 5 September 2026. Intensitas dentuman yang terdengar berturut-turut pada dini hari memicu kepanikan warga yang sebagian besar sedang beristirahat di dalam rumah.
Lokus utama dari sumber aktivitas vulkanik ini berpusat di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, tempat Gunung Anak Krakatau berada. Namun, efek gelombang kejutan dan suara getaran dari erupsi tersebut merambat sangat jauh hingga melintasi Selat Sunda, mencakup wilayah Provinsi Banten serta beberapa daerah di Jawa Barat termasuk kawasan Bandung.
![]() |
| Fenomena Erupsi Menerus Gunungapi Anak Krakatau Tanggal 5 September 2026. Sumber:Humas - Sekretariat Badan Geologi ESDM. |
Penyebab utama timbulnya suara dentuman dentuman dan getaran hebat ini adalah pelepasan energi vulkanik yang sangat kuat saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi efusif dan eksplosif. Letusan tersebut melontarkan kolom abu abu pekat setinggi kurang lebih 300 meter dari atas puncak kawah, diiringi tekanan gas tinggi di dalam perut gunung yang menghasilkan gelombang kejut di udara (acoustic shockwave).
Gelombang kejut yang tercipta dari tekanan gas vulkanik tersebut merambat melalui lapisan atmosfer dan beresonansi dengan bangunan di daratan. Hal inilah yang menyebabkan pintu, jendela kaca, hingga atap seng rumah warga yang berjarak belasan hingga puluhan kilometer dari pusat erupsi mengalami getaran hebat seolah-olah terdampak guncangan gempa bumi lokal.
PVMBG menjelaskan bahwa fenomena rambatan suara dan getaran hingga jangkauan ratusan kilometer ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca malam hari serta kelembapan udara yang tinggi. Atmosfer yang tenang di malam hari mempercepat pembiasan gelombang suara letusan sehingga gelombang dentuman dapat terdengar sangat jelas di daerah-daerah yang jauh dari Selat Sunda.
Pihak kepolisian melalui Polda Lampung dan Polda Banten langsung menerjunkan personel Bhabinkamtibmas dan tim patroli ke kawasan pesisir pantai untuk memantau situasi secara langsung. Petugas mengimbau para nelayan dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir untuk sementara tidak mendekati area pantai dalam radius bahaya yang telah ditetapkan oleh PVMBG.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada level Waspada dengan rekomendasi radius aman beberapa kilometer dari kawah aktif. Masyrakat diimbau untuk tidak mempercayai isu-isu hoaks terkait potensi tsunami dan selalu memantau pemutakhiran data resmi dari aplikasi pemantauan gunung api milik PVMBG.
| Parameter Informasi | Detail Catatan Resmi PVMBG & Kepolisian |
| Peristiwa Utama | Erupsi Gunung Anak Krakatau & Dentuman Misterius |
| Ketinggian Kolom Abu | Teramati ± 300 Meter di Atas Puncak Kawah |
| Wilayah Jangkauan Dampak | Lampung, Banten, hingga Jawa Barat (Bandung Raya) |
| Waktu Kejadian | Jumat Malam - Sabtu Pagi, 5 September 2026 |
| Penyebab Getaran | Gelombang Kejut (Shockwave) Tekanan Gas Vulkanik |
| Status Gunung Api | Level Waspada (Masyarakat Dilarang Mendekati Kawah) |
Rangkaian fenomena alam ini menguji kesiapsiagaan sistem mitigasi kebencanaan di sekitar Selat Sunda. Kerja sama yang cepat antara otoritas pengamat gunung api, aparat kepolisian, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas keamanan serta keselamatan warga di sepanjang pesisir Lampung dan Jawa Barat.
